Posted by: Dwiyathi | December 12, 2018

Urachus paten

          Mungkin topik ini tentang masalah pembedahan, tapi tidak jarang orangtua mengeluh ke kita sebagai tetangga, keluarga terdekat bahwa anaknya mengeluarkan cairan saat menangis dan semakin banyak munculnya saat malam hari melalui pusarnya. Paten urachus kongenital merupakan kelainan yang langka dengan insiden kejadian 0,25 dari 10.000 kelahiran. Laki-laki lebih sering mengalami dibandingkan dengan perempuan. Kata urachus memiliki arti ligamen dari umbilikus (pusar) bagian medial yakni terdapat struktur yang menghubungkan kandung kencing menuju umbilikus. Normalnya struktur ini menghilang sebelum lahir, dan hanya merupakan jaringan ikat yang tersisa dan tidak memiliki fungsi. Namun bila sisa jaringan ini menetap akan menimbulkan berbagai permasalahan klinis. Pemeriksaan yang dianjurkan untuk mengetahui kasus ini adalah ultrasonografi, CT Scan, preoperative micturating cystourethrogram (MCUG).

                1      images      2jmc2951w-g001              Gambar 1 tipe dari urachus, gambar 2 kasus urachus, sumber: https://www.google.com/ Flink.springer.com dan Journal of Medical Cases, ISSN 1923-4155 print, 1923-4163 online, Open Access

          Komplikasi yang dapat terjadi bila tidak tertangani seperti omfalitis berulang, sistitis, pielonefritis, kalsifikasi, karsinoma. Urachus yang memiliki gejala sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan dimana dilakukan pemotongan sisa urachus dari umbilikus sampai dengan kantung kencing. Terdapat 3 manifestasi klinis dari jaringan sisa urachus ini: 1. Urachus paten terdapat saluran yang menghubungkan antara umbilikus dan kandung kencing, urin keluar melalui umbilikus. 2. Sinus urachal yakni terdapat saluran namun buntu. 3. Kista urachal terdapatnya kista yang ditemukan dibawah dari umbilikus. Urachus paten dibedakan dengan kista urachus dari cairan yang keluar melalui umbilikus, cairan yang keluar melalui umbilikus jernih berwarna seperti urin merupakan paten urachus, bila berwarna keruh serus dan berdarah merupakan kista urachus. Usia yang paling sering ditemukan paten urachus atau sinus dalam rentang usia 1-3 bulan, untuk kista urachus sering ditemukan pada usia 3 tahun.  Sumba Barat Daya, 13/12/2018

  1. Murthy MK, Naveen S, Hanumanthaiah, Adarsh E, Sunil B. Patent urachus in a neonate presenting with severe umbilical bleeding: A case report. JIMSA. 2014;1:27.
  2. Poenaru D.Disorders of the umbilicus in infants and children: A consensus statement of the Canadian association of pediatric surgeons. Paediatr Child Health. 2011;6:312-3.

Advertisements

Gagal tumbuh pada bayi atau anak merupakan kondisi bayi atau anak tidak mengalami penambahan berat badan sesuai dengan kuva pertumbuhan normal atau mengalami penurunan berat badan, untuk menyatakan gagal tumbuh minimal terdapat 2 titik pengamatan pada kurva berat badan terhadap umur. Berdasarkan WHO 2006 kriteria gagal tumbuh bila terdapat growth flattering  bila terdapat garis yang menghubungkan 2 titik tersebut menjauhi kurve diatasnya. Menurut CDC 2000 kriteria gagal tumbuh bila garis yang menghubungkan kedu titik pengamatan memotong 2 garis persentil mayor. Gagal tumbuh dapat merupakan akibat gangguan nutrisi 1000 hari pertama kehidupan dengan diawali semenjak terjadi konsepsi. Keberhasilan pengenalan nutrisi padat pada usia 8-10 bulan akan menunjukkan keberhasilan anak makan saat usia di atas 2 tahun.

Permasalahan anak tidak mau makan, gerakan tutup mulut atau cenderung memilih makanan (picky eater) dapat merupakan akibat kegagalan feeding practice pada usia tersebut. Keberhasilan makan pada anak tidak akan terjadi begitu saja, karena hal tersebut perlu dilakukan pengulangan sehingga menjadi sebuah kebiasaan pada anak. Kemampuan mengunyah dengan baik tidak akan muncul bila tidak secara terus menerus dilatih. Kehilangan moment  pengenalan makanan saat 8 bulan pertama pengenalan makanan padat dapat berpengaruh terhadap kemampuan makan anak saat usia diatas 2 tahun yang pastinya dapat memberikan risiko terjadinya gagal tumbuh pada anak karena asupan makro dan mikronutrien yang tidak seimbang. Sondosia, 13 Mei 2018

Posted by: Dwiyathi | May 13, 2018

Red Flag Perkembangan Anak

Prinsip dari tumbuh kembang anak perkembangan menimbulkan perubahan. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi saat awal menentukan perkembangan selanjutnya dan menunjukkan pola dan kecepatan yang berbeda. Satu sama lain memiliki korelasi, perkembangan didapat dari hasil belajar dan proses kematangan, tahapnya berurutan dan polanya tetap dan dapat diramalkan. Stimulasi anak dilaksanakan melalui pendidikan teman sebaya dalam wadah pendidikan anak usia dini, ataupun stimulasi oleh orang terdekat di rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal. Stimulasi anak berhasil bila dilakukan dengan dengan rasa cinta dan kasih sayang seperti dengan bernyanyi, bermain tanpa paksaan ataupun hukuman. Ingatkan stimulasi diberikan sesuai umur dan memberikan pujian atas keberhasilan yang.

Hal-hal kecil seperti berikut ini yang wajib diketahui untuk diwaspadai dalam melihat dan stimulasi perkembangan anak. Hilangnya kemampuan pada berbagai umur dan anak tidak dapat mengikuti benda. Anak mengalami kehilangan pendengaran. Segi motorik anak memiliki tonus otot yang menurun, tidak mampu untuk berjalan. Anak tidak mampu duduk tanpa ditopang saat usia 12 bulan, jalan jinjit (toe walking), tidak mampu berjalan usia 18 bulan pada laki-laki dan usia 2 tahun pada perempuan. Dari kemampuan berbahasa anak tidak bisa berbicara saat usia 18 bulan. Kehilangan kempuan personal sosial seperti tidak dapat menunjukkan ke arah benda yang membuat tertarik pada usia 2 tahun dan tidak mampu memegang benda saat usia 5 bulan. Melalui hal sederhana tersebut kita dapat mengenali gangguan perkembanagn dini pada anak sehingga dapat menentukan tindak lanjut berikutnya, jangan lupa untuk mengkonsultasikan tumbuh kembang mereka ya. Sondosia, 13 Mei 2018

 

Posted by: Dwiyathi | December 19, 2017

FISIOLOGI DARI KASKADE OKSIGEN

Komposisi udara terdiri dari 20,98% oksigen, 78,06% N2, 0.04% karbondioksida dan 0,92%gas inert lainnya sesuai dengan hukum Dalton yang menyatakan penjumlahan dari tekanan parsial masing-masing kandungan gas merupakan tekanan total di udara. Tekanan di atas permukaan laut tekanan I atmosfer = 760 mmHg = 101kPa, sehingga tekanan parsial oksigen adalah 21,2 kPa (0,21×760=160 mmHg) dan tekanan parsial karbondioksia adalah 0,004×760 = 0,3 mmHg. Oksigen kaskade merupakan suatu proses penurunan tekanan oksigen dari atmosfer ke mitokondria seperti berikut ini : Udara atmosfer àalveoli à darah arteri à jaringan kapiler àmitokondria.

Pada suhu 370C tekanan uap air di trakea 6,3 kPa (47 mmHg), sehingga tekanan yang dihasilkan oleh udara pada udara yang lembab adalah 760-47 mmHg = 713 mmHg, tekanan parsial oksigen pada udara lembab adalah 713 x 0,21 = 149 mmHg (19,9kPa) (inilah yang merupakan awal dari kaskade oksigen), mengalir menuju saluran pernapasan  dilarutkan oleh tekanan karbondioksida dari alveoli dan didapatkan tekanan parsial oksigen dengan perhitungan (alveolar gas equation) PaO2 = PiO2 – PaCO2/R dimana tekanan parsial karbondioksida sebesar 40 mmHg, R merupakan respiratory quotient (RQ) yang merupakan rasio dari jumlh karbondioksida yang diproduksi dibagi dengan oksigen yang terambil (RQ = VCO2/VO2)= 200/250=0,8. Nilai RQ tergantung substrate yang dimetabolisme, bila hanya karbohidrat = 1 dan bila protein dan lemak = 0,8. Sehingga tekanan parsial oksigen menjadi = 149 – (40/0,8) = 100 mmHg (13,2kPa).

Tekanan parsial oksigen adalah sebesar 100 mmHg, sedangkan tekanan parsial oksigen yang balik dari jaringan menuju darah melalui arteri pulmonary rendah yakni 40 mmHg (4,3 kPa) sehingga oksigen berdifusi dari elveoli menuju kapiler paru. Pergerakan oksigen melalui tekanan parsial yang tinggi 13 kPa menuju yang rendah 4,3kPa. Darah tersebut bergerak menuju vena pulmonal menuju jantung bagian kiri kemudian ke system arteri dan menuju jaringan sistemik. Pada paru-paru yang sempurna , tekanan parsial oksigen pada vena pulmonalis  akan sama dengan tekanan parsial oksigen pada alveoli. Faktor yang dapat menyebabkan tekanan parsial oksigen dari vena pulmonary lebih rendah dari tekanan parsial oksigen pada alveoli adalah peningkatan dari alveolar:arterial differences (ventilation perfusion mismatch, dead space, shunt), difusi yang lambat dari membrane kapiler ke alveoli.

Law R, Henry B. The physiology of oxygen delivery. Update in Anaesthesia.1999; 1-6

                                  Gambar 1 Grafik Ventilasi dan perfusi area paru-paru yang berbeda

Ventilasi perfusi mismatch (V/Q) Pada kondisi paru-paru yang sempurna, alveolus menerima pembagian yang sama dari ventilasi alveolar dan pembagian yang sama curah jantung pada kapiler paru yang mengelilingi alveoli, hal ini yang disebut dengan alveolar minute ventilation and perfusion matched dengan nilai V/Q=1. Perfusi paling baik pada dasar paru dan menurun semakin ke paru-paru paling atas karena efek gravitasi, Ventilasi dan perfusi mengalami gangguan dimana pada daerah atas paru lebih terventilasi dibandingkan perfusi untuk pertukaran gas mnurun (deadspace: emboli paru), V/Q >>1. Area dasar dari paru perfusi didapatkan lebih dari ventilasi V/Q<<1 (shunt:atelektasis, konsolidasi paru, edema paru, obstruksi jalan napas kecil). Ketika di dalam alveoli tidak terjadi pertukaran oksigen dimana ventilasi alveoli sudah baik dimana tekanan parsial oksigen pada pembuluh darah kapiler tidak dapat berkompensasi melakukan transfer oksigen pada daerah yang oksigennya rendah, hal ini mungkin dikarenakan jumlah maksimum dari oksigen yang berikatan dengan hemoglobin (oxygen haemoglobin dissociation curve).

Law R, Henry B. The physiology of oxygen delivery. Update in Anaesthesia.1999; 1-6

Gambar 2. Diagram membedakan ventilasi dan perfusi mismatch

Difusi oksigen terjadi dari alveolus menuju kapiler sehingga tekanan parsial oksigen pada kapiler sama dengan tekanan parsial pada alveolus, proses ini terjadi dalam 0,25 detik dan biasanya terjadi bila aliran darah paru melewati 1/3 dari perjalanan kapiler paru dengan waktu total transit melalui kapiler 0,75 detik. Pada kondisi paru normal, walaupun dalan kondisi kerja berat masih cukup waktu mencapai keseimbangan tersebut, namun pada penyakit paru mungkin keseimbangan tidak terjadi dan akan terjadi hipoksemia. Untuk mencegah efek tersebut pembuluh darah paru mengalami konstriksi sebagai response terhadap kadar oksigen yang rendah dan menurunkan aliran darah pada daerah yang tidak terventilasi baik (hypoxic pulmonary vasoconstriction).

Law R, Henry B. The physiology of oxygen delivery. Update in Anaesthesia.1999; 1-6

      Gambar 3. Proses difusi dari oksigen paru

Penghantaran oksigen menuju jaringan (Oxygen delivery) tergantung dari konsentrasi hemoglobin, kemampuan oksigen terikat oleh hemoglobin, jumlah oksigen yang terlarut dan curah jantung melalui rumus : DO2 = (1,34xhgbxSaO2)+(0,003xPaO2) x Q. Transportasi oksigen dari pembuluh kapiler ke jaringan melalui proses difusi yang sederhana. Pasteur point merupakan jumlah tekanan oksigen yang menuju jaringan yang dapat dipergunakan, bila tekanan oksigen berada di bawah titik tersebut, oksigen yang menuju jaringan tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen jaringan.1 Tekanan parsial oksigen mecapai level terendah (1-1,5kPa) di dalam mitokondria yang merupakan bagian dari sel yang menghasilkan energy. Penurunan oksigen dari udara menuju mitokondria disebut sebagai oxygen cascade. Keberhasilan dari penurunan tekanan parsial oksigen dapat dipengaruhi oleh proses patologis seperti kondisi hipoventilasi, ventilasi perfusi yang tidak seimbang, gangguan difusi yang mengakibatkan hipoksia jaringan.2

Faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan udara dari atmoefer menuju alveolus adalah ada pada dataran tinggi karena tekanan udara akan menjadi lebih rendah dari pada tekanan di atas permukaan laut sehingga tekanan parsial oksigen menjadi rendah. Semakin tinggi uap air akan menurunkan tekanan parsial oksigen. Jumlah karbondioksida pad alveoli tergantung dari metabolism dan tingkatan hipoventilasi, dimana kondisi demam, sepsis, hipertermia akan meningkatkan produksi karbondioksida.

Aliran oksigen dari alveoli menuju kapiler tergantung dari terjadinya mismatch ventilasi dan perfusi yang dapat terjadi karenan pada paru-paru yang normal pada zon atas biasanya lebih mengalami ventilasi dibandingkan zona yang lebih bawah. Shunt dapat terjadi bila darah yang

tidak mengalami oksigenasi melewati alveoli yang tidak terventilasi (seperti kondisi atelektasis, konsolidasi paruu dan penutupan aliran napas yang kecil) akan masuk ke dalam arteria sistemik. Efek ini ikompensasi oleh mekanisme hypoxic pulmonary vasoconstrisction (HPV). Difusi paru yang terlambat oleh karena penyakit paru dpat menyababkan gangguan oksigenasi.

Perbedaan tekanan alveoli dan arterial P(A-a)O2, dimana tekanan parsial oksigen darah arteri PaO2 =102-usia/3 dengan nilai normal perbedaan tekanan 5-5 mmHg, perbedaan tekanan gradient alveoli  meningkat karena difusi yang lambat, atelektasis dan edema paru, penyakit jantung congenital (Right to left shunt). Tekanan arteri tergantung pada shunt, mismatch ventilasi dan perfusi, tekanan campuran oksigen pada vena. Peredaran darah dari arteri ke jaringan tergantung dari tingkatan serum hemoglobin, hemoglobin yang tersaturasi oleh oksigen, curah jantung dan jumlah oksigen yang terlarut.

Law R, Henry B. The physiology of oxygen delivery. Update in Anaesthesia.1999; 1-6

Gambar 4. Proses kaskade oksigen

Oksigen yang dibawa oleh darah melalui bebrapa cara sekitar 5% terlarut dalam serum dan 95% berkombinasi dengan hemoglobin. Satu molekul dari hemoglobin mengandung 4 kelompok besi yang dapat berikatan dengan 4 molekul oksigen sehingga 1 gram Hb dapat menganding 1,34 ml oksigen, sehingga pada kondisi tekanan parsial oksigen pada 100 mmHg dengan kadar hemoglobin 98%, untuk hal tersebut 15 gram hemoglobin pada 100 ml darah akan membawa oksigen sebanyak 20 ml. Bila tekanan parsial alveoli ditingkatkan menjadi 100% dengan menghirup 100% oksigen, jumlah yang sedikit dari oksigen bebas yang terlarut dalam plasma (dengan kecepatan 0,025 mlO2/100 ml dari darah/kPaO2 tidak akan meningkatkan jumlah oksigen yang dibawa oleh hemoglobin karena sudah >95% tersaturasi dengan oksigen).

Jumlah dari konsentrasi udara yang berada dalam cairan adalah proporsional dengan tekanan parsialnya dengan  rumus konsentrasi gas = koefisien terlarut x tekanan parsial dari gas. Sehingga kelarutan oksigen adalah 0,3 ml/dL. Darah vena mengandung tekanan parsial oksigen 40 mmHg dan konsentrasi hemoglobin 75% tersaturasi mengandung 15 ml oksigen tiap 100 ml darah. Jadi bila sebanyak 100 ml darah yang melewati paru, paru-paru akan mengambil 5 ml oksigen. Oksigen konten merupakan jumlah oksigen pada larutan ditambah dengan jumlah oksigen yang dibawa oleh hemoglobin  dengan rumus = 0,003 mlO2/dL x PaO2 + 1,34 x Hgbx % saturasi Hemoglobin.

Konsumsi oksigen sekitar 250 ml oksigen dipergunakan setiap menit oleh pasien dalam kondisi sadar (resting oxygen consumption), sehingga hanya 25% dari oksigen arteri yang dipergunakan tiap menit. Hemoglobin pada darah vena mengandung 73% oksigen tersaturasi (98%-25%). Ketika penghantaran oksigen lebih rendah dibandingkan konsumsi oksigen menyebabkan jaringan mengambil oksigen lebih banyak dari hemoglobin dan saturasi darah vena turin dari 70%. Pada titik tertentu penurunan oksigen ini akan menimbulkan mekanisme anaerobikdan asidosis laktat (supply dependent oxygenation)

Law R, Henry B. The physiology of oxygen delivery. Update in Anaesthesia.1999; 1-6

Gambar 5. Hubungan oksigen delivery dan konsumsi

Penyimpanan oksigen sangat sedikit dan tidak mampu mempertahankan kehidupan beberapa menit. Pernapasan menggunakan oksigen 100% menyebabkan peningkatan penyimpanan oksigen pada kapasitas fungsional paru, hamipr 80 % dari oksigen ini dapat dipergunakan tanpa menurunkan saturasi hemoglobin dengan tekanan parsial oksigen masih 14 kPa, ini alasan preoksigenasi itu penting.

Reference

  1. Biro GP. Chapter 2 from atmosphere to the mitochondrion: The oxygen cascade. 2013: 27-52.
  2. Law R, Henry B. The physiology of oxygen delivery. Update in Anaesthesia.1999; 1-6

 

Posted by: Dwiyathi | October 6, 2017

Erythromycin Sebagai Prokinetik

Permasalahan gastrointestinal yang sering terjadi pada bayi kurang bulan ini dapat berupa refluks dan feeding intolerance, ditandai dengan terdapat residu susu, muntah, distensi lambung. Gejala didapatkan semakin parah pada usia gestasi yang lebih muda. Terganggunya proses pemberian nutrisi enteral tersebut dapat dinilai dengan melakukan evaluasi dari  jumlah residu lambung, dimana normalnya tidak melebihi 30 % dari jumlah yang diberikan. Banyak terapi yang digunakan untuk membantu tatalaksana feeding intolerance, contohnya Cisapride, domperidone, metocloperamide, erythromycin. Erythromycin merupakan makrolid dengan 14 atom karbon menyerupai motillin endogen, yakni 22-polipeptida asam amino yang diproduksi oleh sel duodenum dan jejunum dapat menstimulasi munculnya kontraksi. Pada dosis tinggi 10 mg/KgBB tidak dapat merangsang MMC namun dapat merangsang reseptor otot polos menimbulkan kontraksi antrum. Bayi prematur < 32 minggu reseptor motilin pada otot polos mencapai pematangan lebih awal dibanding reseptor motilin neuron kolinergik sehingga dibutuhkan erythromycin dengan dosis yang lebih tinggi sebagai prokinetik pada bayi prematur. Komplikasi dari penggunaan erythromycin seperti Infantil Hipertrofik Pilorus Stenosis (IHPS), arhrytmia, perubahan kolonisasi di usus, kram abdomen, diare dan resistensi mikroorganisme, namun efek samping tersebut dilaporkan jarang terjadi. Namun belum cukup evidence untuk merekomendasikan penggunaan rutin dari erythromycin sebagai pencegahan atau terapi untuk feeding intolerance pada bayi prematur, kebanyakan penelitian menyampaikan efikasi yang baik pada penggunaan dosis intermediet sampai dosis tinggi (12 mg/KgBb atau lebih) pada bayi usia gestasi > 32 minggu.

NAVA (Neurally Adjusted Ventilatory Assist) merupakan mode ventilasi yang baru menawarkan solusi yang baik pada ventilasi neonates. Ventilasi pada neonatus sangat kompleks berdasarkan kebutuhan waktu inspirasi yang pendek, laju respirasi yang cepat, dan volume tidal yang kecil. Idealnya ventilasi yang efektif merupakan ventilasi yang sinkron dari saat dimulainya pernapasan, ukurannya dan akhir pernapasan. Trigger yang baik dimana cukup sensitif memicu pernapasan bayi premature dan tidak menyababkan autotriggering.

Ventilasi yang tidak sinkron menimbulkan permasalahan sulit melakukan weaning dari ventilasi mekanik. Kejadian premature cycling, trigger yang inefektif, double triggering dan auto triggering menghilang setelah mulai dipergunakan NAVA. NAVA diaktifkan oleh trigger nural maupun trigger pneumatic.

NAVA diindikasikan pada pasien yang memilki komplians paru yang rendah dan ventilator konvensional gagal melakukan sinkronisasi dan memperburuk usaha napas. NAVA hanya diindikasikan pada pasien yang memilki pernapasan yang adekuat. Sebaiknya NAVA tidak dipergunakan pada kondisi tidak terdapatnya usaha napas atau usaha napas yang tidak efisien seperti pada permasalahan otak, penggunaan obat-obatan sedasi, terdapatnya anomaly seperti atresia esophagus, hernia diafragmatika, cedera pada nervus phrenilus, myopathy congenital, pada prosedur MRI.

Keuntungan penggunaan terdapat sinkronisasi antara alat dengan mesin, usaha napas menjadi normal, mencegah terjadinya atrofi dari diafragma, mengurangi kebutuhan dari obat sedasi, pasien menjadi lebih nyaman, mempercepat proses weaning, dan meningkatkan hemodinamik pasien.

Terminologi baru yang dipergunakan pada mode NAVA ini antara lain NAVA level yag merupakan faktor yang proporsional mengubah sinyal Edi ke dalam tekanan, dimana semakin tinggi dari level NAVA berarti semakin besar usaha napas dari ventilator. Sinyal Edi yang merupakan kepanjangan dari Electrical Activity of Diaphragma merupakan sinyal yang digunakan mesin untuk menentukan besar bantuan dari ventilator. Edi Max merupakan aktivitas elektrikal diafragma yang maksimal di setiap napasnya, sedangkan Edi Min merupakan gambaran aktivitas elektrik diafragma diantara usaha inspirasi. Ketepatan posisi dari keteter Edi dapat dipastikan dengan gambaran retrokardiak 4 EKG dimana aktivitas dari diafragma sebaiknya terdeteksi pada grafik ke2 dan ke3. Tidak terdeteksinya sinyal Edi dikarenakan karena gagalnya pusat napas untuk menyampaikan sinyal seperti kondisi apneu pada bayi premature, hipoventilasi sentral, over-assist ventilation, tauma kepala, sedasi. Terdapatnya kelainan anatomi seperti hernia diafragma, adanya kelainan saraf perifer seperti kelainan saraf phrenikus, gangguang neuromuscular di diafragma dapat menyebabkan tidak terdeteksi Edi. Kelainan jantung seperti PVC, Atrial Fibrilasi juga dapat dilihat dari grafik Edi sehingga kita lebih hati-hati menggunakan inotropik.

Peak pressure menggunakan upper limit pada ventilator sebelumnya. Level awal NAVA biasanya dibuat1 cmH2O/µV dan nantinya disesuaikan dengan besarnya Edi yang menurut penelitian sebelumnya  berkisar antara 5-15 µV. Turunkan level NAVA bila Edi terlalu rendah dan naikkan level NAVA bila Edi didapatkan terlalu tinggi. Pasien bisa dipersiapkan weaning bila back up time tinggi dan percent time back up yang rendah. Dwiyathi, lectures from Nagano Children Hospital Japan

Penggunaan Nest atau Swaddle Support pada Posisi Prone Memfasilitasi Tidur serta Stabilitas Denyut Jantung pada Neonatus dengan Berat Lahir Sangat Rendah

Bayi prematur yang diposisikan telungkup memperlihatkan respon stress seperti twicing, tremor, startle yang minimal. Keuntungannya lagi dapat meningkatkan sinkronisasi gerakn torakoabdominal dan gerakan dinding dada. Terdapat beberapa laporan posisi prone meningkatkan waktu tiur tenang (Quite Sleep/QS) dan menurunkan waktu menangis saat tidur (Active Sleep/AS).

 

Bayi prematur memiliki pengalaman sensorimotor motor yang berbeda dibading bayi cukup bulan, dimana bayi prematur sangat sensitif terhadap suara, cahaya dan nyeri. Posisi prone dalam beberapa penelitian meningkatkan tidur tenang pada bayi premature dengan mekanismenya masih belum jelas, Penelitian Harper menyimpulkan metabolisme bayi prematur meningkat setelah periode makan yang mempengaruhi repon temporal dari keinginan tidur, pada posisi prone dilaporkan kebutuhan energi tersebut bekurang. Posisi prone dengan support sepeti menggunakan swaddle mat memberikan kenyamanan dan elaksasi pada bayisehingga sedikit energi yang dipergunakan untuk metabolism sehingga meningkatkan pertumbuhan linear dan pertumbuhan otak. Penggunaan spenunjang saat tidur pada bayi prematur memfasilitasi proses tidur dan menstabilkan denyut jantung pada bayi prematur.

Nagano, June 8th 2016, Dwiyathi, sumber : Kihara H, Nakamura T. Nested and swaddled positioning support in the prone position facilitates sleep and heart rate stability in very low birth weight infants. Dove press kournal. 2013:3:11-14

Survei kesehatan keluarga yang dilakukan di India mendapatkan sekitar 70 % anak mengalami anemia. Risiko. Neonatus preterm memiliki risiko tinggi terjadinya anemia karena kadar erythropoietin yang rendah serta usia sel darah merah yang lebih pendek. Desember 2012 , American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan pemotongan tali pusar lebih lambat 30-60 detik pada semua kelahiran prematur.

Anemia yang terjadi pada masa anak akan mempengaruhi kognitif dan fungsi otak. Pemotongan tali pusar yang terlambat serta milking pada tali pusar dimana pada prosedur ini tali pusar dikosongkan menuju ke arah bayi terbukti dapat mencegah kejadian anemia pada bayi. Prosedur ini akan mentransfer volume darah dan hemoglobin tambahan dari plasenta ke bayi. Prosedur ini menurut beberapa penelitian dapat mencegah anmia pada payi prematur, aterm, dan mendekati aterm. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Upadhyay, 2013 nilai rata-rata feritin dan hemoglobin meningkat signifikan lebih tinggi 6 minggu setelah dilakukan intervensi. Jumlah ferritin meningkat sebesar 125,56-231,21µg/L dan hemoglobin meningkat sebesar 0,66-1,42 g/dL.

Selain meningkatkan jumlah ferritin dan hemoglobin darah, prosedur ini juga meningkatkan tekanan darah dan curah jantung karena sekitar 20 mL volume darah ekstra diberikan. Kebutuhan fototerapi pada bayi yang mendapat prosedur ini tidak meningkat dibandingkan yang tidak dilakukan prosedur ini.

Penelitian lain yang dilakukan pada neonates <33 minggu, neonates yang dilakukan posedur milking memilki risiko rendah untuk memerlukan oksigen pada usia gestasi 36 minggu dan menurunkan risiko terjadinya perdarahan intraventrikel (IVH) dibandingkan dengan yang segera dilakukan pemotongan tali pusar. Prosedur ini dilakukan dengan milking 20 cm jarak dari tali pusar ke umbilikus sebanyak 3 sebelum dilakukan klem tali pusar.

Penelitian yang membandingkan prosedur milking tali pusar pada bayi lahir secara seksio cesarea dibandingkan dengan pemotongan tali pusar yang terlambat, dapat meningkatkan perfusi atau aliran darah sistemik. Aliran darah sistemik tersebut dinilai dengan pengukuran aliran vena cava superior, output ventrikel kanan, serta oksigenasi serebral yang diukur mrnggunakan near infrared spektroskopi. Poduksi urin juga meningkat dibandingkan dengan pemotongan tali pusar yang terlambat.

ILCOR (The International Liaison Committee on Resuscitation) mengeluarkan rekomendasi pencegahan anemia neonates 2010 menyarankan prosedur milking pada bayi lahir dengan usia gestasi kurang dari 29 minggu untuk meningkatka rata-rata tekanan darah, profil hematologi dan kejadian perdarahan intraserebral walaupun penelitian jangka panjang belum ada.

Dwiyathi, Nagano Japan, June 5’th 1, dari berbagai sumber

Posted by: Dwiyathi | June 6, 2016

Pengaruh Probiotik pada Bayi Prematur

Pemberian probiotik pada bayi prematur mengurangi risiko Sepsis neonatal awitan lambat. Pada penelitian dengan subyek binatang didapatkan penggunaan probiotik meningkatkan fungsi pertahanan mukosa usus, mencegah kolonisasi bakteri pathogen pada usus, meningkatkan kolonisasi dari bakteri komensal sehat, melindungi dari infeksi bakteri enteropatogen melalui produksi asetat, meningkatkan imunitas, dan meningkatkan maturitas dari system saraf enteric. Semua hal tersebut memiliki potensi menurunkan risiko sepsis neonatal awitan lambat oada bayi premature. Dr, Shripada Rao dari Rumah Sakit Anak Margaret Perth Australia Metaanalisis dari 37 penelitian yang menyertakan jumlah subyek total 9416 bayi mendapatkan risiko relatif terjadinya sepsis neonatal awitan lambat adalah 0,86 dengan NNT (Number Needed To Treat) 44.

Hasil penelitian tersebut didapatkan signifikan pada neonatus dengan usia gestasional kurang dari 32 minggu atau dengan berat lahir < 1500 gram yakni pada 24 penelitian dengan sampel 7175 neonatus. Probiotik yang dipergunakan, yakni Bifidobakterium pada 22 penelitian dengan 6069 sampel. Laktobasilus dipergunakan pada 21 penelitian dengan ukuran sampel 5961. Sebanyak 14 penelitian dengan sampel 3455 menggunakan beberapa strain dari probiotik

Pada penelitian yang telah ada informasi yang didapat mengenai bayi sangat prematur dan berat lahir amat sangat rendah sangat minimal. Penelitian lanjutan diperlukan karena sementara ini blum dapat menjawab menegenai dosis dan durasi dari pemerian probiotik pada neonates dengan sepsis neonatal awitan lambat.

Sumber :Neonatal Intensive, The Jounal of Perinatology-Neonatology, Vol 29 No 2 Spring 2016 (Dwiyathi, Nagano Japan, June 5’th 16)

Nitrogen monoksida merupakan vasodilator yang diperuntukkan sebagai terapi bayi cukup bulan maupun mendekati usia gestasi cukup bulan (lebih dari 34 minggu). Terapi ini akan meningkatkan oksigenasi pada neonatus gagal nafas akibat hipoksia disertai dengan permasalahan jantung. Terapi ini mengharuskan klinisi untuk tetap memantau kadar PaO2, kadar methemeglobin, Nitrogen Monoksida yang dihirup.

Penggunaan terapi nitrogen monoksida kontraindikasi pada neonatus yang mengalami shunting pembuluh darah dari kanan ke kiri (sianotik). Nitrogen monoksida ini akan berikatan  kuat dengan hemoglobin, sehingga hemoglobin sendiri tidak dapat berfungsi sebagai transport oksigen. Apabila kadar methemeglobin tidak turun dengan dihentikannya terapi nitrogen monoksida,  modalitas terapi lain diperlukan untuk tatalaksana lebih lanjut. Kondisi methemeglobinemia dapat diatasi dengan pemberian vitamin C intravena, Methylene blue intravena tau transfuse darah yang sangat tergantung dari kondisi klinis. Penghentian terapi nitrogen monoksida ini dilakukan secara bertahap karena dikhawatirkan akan memperparah oksigenasi dan meningkatkan tekanan arteri pulmonal (Rebound pulmonary hypertension syndrome). Gejalanya meliputi hipoksemia, hipotensi sistemik, bradikardia dan penurunan curah jantung.

Konsentrasi dari Nitrogen dioksida tidak boleh melebihi 0,5 ppm karena bisa menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan paru. Sebuah penelitian percobaan yang menyertakan 278 pasien yang mendapatkan terapi  NO dan 212 pasien mendapatkan placebo, diantara pasien tersebut angka mortalitas 11 % pada plasebo dan 9 % pada neonatus yang mendapatkan NO. Penelitian NINOS dan CINRGI mendapatkan perbedaan yang tidak bermakna terhadap rata-rata lama rawat di rumah sakit antara placebo dan yang mendapatkan terapi nitrogen monoksida. Pada penelitian CINRGI didapatkan efek samping hipotensi lebih tinggi 2 persen pada neonates yang mendapatkan terapi NO.

Penghentian segera penggunaan nitrogen monoksida bila didapatkan kadar nitrogrn dioksida melebihi 3 ppm dan kadar dari methemeglobin lebih dari 7 %. Risiko terjadinya methemeglobinemia meningkat bila penggunaannya bersamaan dengan sodium nitropurusid, nitrogliserin, dan prilocaine.

Sumber : Neonatal Intensive, The Jounal of Perinatology-Neonatology, Vol 29 No 2 Spring 2016 (Dwiyathi, Nagano Japan, June 5’th 16)

Older Posts »

Categories